ASN News ( BISNIS ) - Harga minyak jatuh dari level tertinggi 2014 pada perdagangan Kamis (20/1/2022) karena investor mengambil keuntungan setelah reli baru-baru ini. Namun kuatnya permintaan dan gangguan pasokan minyak menahan pelemahan lebih lanjut.
Minyak mentah berjangka
Brent turun 6 sen jadi US$ 88,38 per barel setelah ambles lebih US$ 1 pada
perdagangan hari sebelumnya. Adapun minyak mentah berjangka West Texas
Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari turun 6 sen menjadi US$ 86,90
per barel. Sementara kontrak, yang berakhir pada Kamis, naik ke US$ 87,91 pada
Rabu. Sementara kontrak WTI Maret yang lebih aktif turun 15 sen, atau 0,1%,
menjadi US$ 85,65 per barel.
“Suara dari mereka yang
memperkirakan US$ 100 per barel minyak semakin keras dari hari ke hari,” kata
Tamas Varga dari pialang minyak PVM.
Kekhawatiran pasokan telah meningkat minggu ini setelah kebakaran menghentikan aliran melalui pipa minyak dari Kirkuk Irak ke pelabuhan Ceyhan di Turki pada Selasa (17/1/2022).
Di sisi lain, serangan Houthi Yaman di Uni Emirat Arab, produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), meningkatkan risiko geopolitik.
Pasar juga didukung kekurangan pasokan dari kelompok produsen OPEC dan sekutu yang dipimpin Rusia. Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu (19/1/2022) mengatakan bahwa kelompok itu memproduksi sekitar 800.000 barel per hari (bph) di bawah target Desember.
IEA mengatakan bahwa pasar minyak bisa mengalami surplus signifikan pada kuartal pertama tahun ini. Persediaan kemungkinan akan jauh di bawah tingkat pra-pandemi. Badan tersebut juga meningkatkan perkiraan permintaan 2022.
Adapun kenaikan persediaan
minyak AS pekan lalu membebani harga. Stok minyak mentah naik 1,4 juta barel
pekan lalu. Sementara persediaan bensin naik 3,5 juta barel dan stok sulingan
turun 1,2 juta barel, menurut sumber pasar mengutip American Petroleum
Institute.




