15
Ton Pupuk Batu Bara Karya Anak Bangsa Diekspor ke AS
Pupuk
batu bara karya anak bangsa, R. Umar Hasan Saputra – yang menjabat sebagai
direktur utama PT Bursatani Global Niaga dan komisaris PT Putra Global Harvest
– resmi diekspor ke Amerika Serikat (AS) sebanyak 15 ton, pada Rabu (9/2).
Ekspor ini menandai pupuk batu bara dengan merek dagang Glogens Carbontilizer
telah masuk ke pasar industri pertanian Amerika Serikat (AS). Sementara di
Indonesia, pupuk batu bara bermerek dagang Futura.
Sebagai
informasi, pupuk batu bara ini telah mendapatkan paten dari Pemerintah AS pada
2020. Sampai saat ini aplikasinya pada berbagai tanaman terus dicobakan di
sana, dan hasilnya sangat positif.
Di
samping itu, khusus untuk kepentingan pengembangan IPTEK, riset ilmiah secara
mendalam pada tanaman jagung dan kedelai juga sedang dilakukan oleh tim
peneliti di Purdue University.
Diungkapkan
oleh Ade R Dermawan, seorang pemilik kebun sawit anggota Asosiasi Petani Kelapa
Sawit Indonesia (Apkasindo) bahwa jika hasil produksi pertaniannya sama dengan
pupuk yang biasa, pihaknya bakal tetap menggunakan pupuk batu bara karena
kesuburan lahan kebun telah menjadi lebih baik, “dengan demikian kami sudah
berbuat sesuatu untuk memperbaiki bumi ini.”
Ada
pun hasil uji coba penggunaan pupuk batu bara yang dilakukan Ade cukup
mengejutkan karena terjadi rata-rata kenaikan produksi tandan buah sawit (TBS)
sebesar 27%.
“Kenaikan
produksi dan peningkatan kualitas adalah kelebihan dari pupuk batubara.
Kenaikan produksi atau peningkatan kualitas hasil panen adalah bonus. Ini pasti
akan terjadi di semua komoditi, karena yang kita lakukan adalah menyediakan
unsur hara yang sangat lengkap untuk tanaman dan memperbaiki kesuburan tanah,”
ujar R. Umar Hasan Saputra yang akrab disapa Saputra, dalam keterangan
tertulis.
Menanggapi
ekspor pupuk batu bara ke AS, Ketua Umum Forum Komunikasi Doa Bangsa (FKDB) H
Ayep Zaki, sekaligus mitra pembangunan pabrik pupuk batu bara pertama di
Sukabumi, mengatakan bahwa ekspor ke Amerika ini merupakan tonggak sejarah,
karena pupuk batubara hasil karya anak bangsa telah diakui dunia dan digunakan
di salah satu negara yang menjadi pusat pertanian dunia.
AS
sendiri hanya salah satu negara yang mulai menggunakan pupuk batu bara. Bahkan
akan membangun pabrik pertamanya di Nevada pada akhir tahun ini.
Perkembangan
Pupuk Batu Bara di Indonesia
Ketersediaan
bahan baku pupuk konvensional di dunia berkurang dan akan akan habis,
menjadikan pupuk jenis ini mulai langka dan mahal. Berbagai negara sudah
menyadari bahwa kekurangan pasokan pupuk secara global akan menyebabkan
terganggunya pasokan pangan dunia. Disinilah pupuk batu bara akan menjadi
solusi bagi semuanya.
Menurut
Saputra, untuk mengatasi masalah di atas, masyarakat dunia tidak punya pilihan
lain. Mereka harus menggunakan pupuk batu bara. “Deposit batu bara yang dapat
digunakan sebagai bahan baku pupuk sangat besar dan tersebar di banyak negara.
Hal ini karena hampir semua jenis bat ubara dapat digunakan, tanpa melihat
nilai kalori.”
“Bahkan
batu bara yang tidak dapat dijual sebagai sumber energi pun dapat digunakan
sebagai bahan baku pupuk. Oleh karena itu untuk waktu yang sangat lama,
kekurangan pasokan akibat kekurangan bahan baku seperti yang dialami pupuk
konvensional saat ini tidak akan terjadi pada pupuk batubara," kata
Saputra.
Kelebihan
lainnya selain memiliki kandungan unsur hara yang sangat lengkap yang
dibutuhkan tanaman dan mengembalikan kesuburan tanah. Pupuk batu bara juga
dapat dibuat dalam waktu cepat dan masif dengan harga terjangkau.
Melalui
PT Bursatani Global Niaga dan PT Saputra Global Harvest, Saputra pun telah
bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pupuk batu bara di
seluruh dunia. Dari hasil kerja sama itu, tahun ini perusaaan berencana
membangun pabrik di berbagai negara, seperti Vietnam, Australia, Turki, Kuwait
dan Malawi di Afrika.




