Reformasi Subsidi Energi Akan Tetap Lindungi Masyarakat Miskin dan Rentan
Pemerintah
memastikan akan terus melakukan reformasi subsidi energi pada 2022 dan juga
tahun-tahun ke depan. Kepala Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio
Kacaribu mengatakan, pemerintah terus berupaya memperbaiki kebijakan subsidi
energi yang pada prinsipnya adalah memastikan subsidi tersebut tepat sasaran.
“Di
satu sisi, reformasi subsidi energi ini juga harus selalu melindungi masyarakat
miskin dan rentan melalui mekanisme semacam bantuan transfer tunai sehingga
daya beli masyarakat miskin dan rentan tetap tetap terjaga,” kata Febrio saat
menjadi pembicara kunci dalam webinar Reformasi Subsidi Bahan Bakar Fosil di
G20: Bagaimana Mencapai Pemulihan Pasca Pandemi?
Febrio
menambahkan, Indonesia sudah pernah melakukan reformasi subsidi energi pada
2015. Ketika itu, pemerintah menghapus subsidi BBM premium, subsidi tetap untuk
solar dan menghapus 12 golongan pelanggan listrik dari daftar penerima subsidi.
“Hasil
dari reformasi subsidi energi pada 2015 adalah ruang fiskal yang signifikan di
APBN. Anggaran subsidi energi turun dari Rp 341 triliun menjadi Rp 119 triliun
atau hemat 65 persen. Penambahan ruang fiskal memungkinkan pemerintah untuk
menaikkan anggaran sektor lain seperti infrastruktur dan dana bantuan sosial
dan juga anggaran untuk pendidikan dan Kesehatan,” ungkap Febrio.
Sementara
itu, Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Badan
Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Wahyu Utomo mengatakan, reformasi
subsidi BBM pernah dilakukan di tahun 2015 dan subsidi listrik di tahun 2017
dapat menjadi pembelajaran penting mengubah mindset dari belanja konsumtif ke
belanja produktif.
"Mengubah
belanja kurang produktif menjadi belanja yang produktif. Ini kebijakan subsidi
energi yang tepat sasaran," kata Wahyu.
Direktur
Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Edi Wibowo mengatakan, jika berbicara
masalah G20 dan transisi energi dalam Presidensi G20, Indonesia juga tetap
dalam tiga isu utama. Masalah kesehatan global yang belum kondusif,
transformasi ekonomi berbasis digital, kemudian transisi menuju energi yang
berkelanjutan.
Dalam
menyikapi transisi energi menuju pemulihan dan produktivitas berkelanjutan,
yakni dengan memperkuat energi bersih global dan juga transisi yang adil. Salah
satunya melalui sekuritas acceptibilitas energy. Pemerintah juga mengejar
kemajuan acceptibilitas dengan tidka meninggalkan hak siapa pun.
"Kemudian
menuju energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan juga modern untuk
semuanya khusunya untuk cooking dan elektrifikasi," kata Edi.
Kemudian
isu regional tematik akses dan transisi energi di negara-negara kepulauan. Ke
depan, semua pihak perlu memikirkan peningkatan teknologi cerdas dan bersih.
Pemerintah perlu memperluas teknologi untuk mengatisipasi tantangan transisi
energi di masa depan termasuk transisi energi yang berpusat pada manusia.
Chief
Economist Ministry of Ecological Transition of Italy, Aldo Ravazzi mengatakan,
permasalahan di Indonesia dan Italia cukup serupa terkait permasalahan dalam
melalukan transisi energi. Apabila ingin mencapai transisi energi, penting
sekali mempertimbangkan reformasi enegi dalam kerangka berpikir yang luas.
Kata
dia, kita perlu mencoba untuk melihat bagaimana mereformasi subsidi bahan bakar
fosil dan secara umum juga subtitusi subsidi memengaruhi lingkungan.
"Kita
juga harus menggunakan kerangka ekologis karena kita perlu juga menghadapi dan
memecahkan isu-isu yang teknis. Kita dapat dan perlu mendukung konsumen atau masyarakat
miskin dan rentan serta sektor-sektor agrikultur dan industri rentan. Namun
ini, tidak dapat dicapai dengan menurunkan harga bahan bakar fosil," kata
Aldo.




